15 Desember 2008
Ibu
Tulisan di atas berasal dari Soekarno dalam buku Revolusi Belum Selesai Jilid 1, Halaman 388-389. Sengaja saya kutip tulisan beliau untuk mengingatkan kita semua bahwa pernah ada pemimpin besar bernama Soekarno yang begitu mencintai tanah airnya. Kata-kata dalam tulisan di atas sudah cukup membuktikan betapa beliau mencintai Indonesia, tanah air yang digambarkan sebagai seorang ibu yang harus dihormati dan dicintai, sesuatu yang kini telah terlupakan oleh kita semua, oleh mereka yang kita percayakan menjadi pemimpin kita saat ini.
Lihatlah, di saat banyak permasalahan negeri yang belum teratasi wakil kita di DPR malah sibuk menyusun undang-undang kontroversial bernama Undang-Undang Pornografi dan Pornoaksi yang kini telah disahkan oleh Presiden meski banyak mendapat reaksi keras masyarakat Bali, Papua, Sulawesi Utara, dan propinsi lainnya yang merasa terancam dengan keberadaan undang-undang porno tersebut. Jadi jelas sudah para pemimpin kita saat ini telah melupakan sejarah bahwa negara ini terbentuk dari keberagaman, bukan keseragaman. Menjadi jelas juga bahwa kita telah melecehkan Ibu kita, Ibu Pertiwi, bahkan “memperkosa”nya beramai-ramai.
Undang-undang Pornografi dan Pornoaksi bukanlah produk budaya kita. Budaya kita adalah budaya yang menjunjung tinggi perempuan, bukan budaya yang merendahkan perempuan dengan menganggap perempuan sebagai kriminal karena telah membangkitkan hasrat seksual laki-laki dan oleh sebab itu perempuan sebaiknya menutup tubuhnya rapat-rapat agar tak membuat hasrat laki-laki bangkit. Ini benar-benar bodoh dan menjijikkan. Di kemudian hari kita akan melihat berbagai tindakan main hakim sendiri oleh individu atau kelompok pada sesuatu yang dianggap porno karena undang-undang membolehkan itu. Sebuah keadaan yang mengingatkan saya pada budaya asing dimana perajaman (dilempar batu sampai mati) terhadap perempuan biasa terjadi. Budaya kekerasan yang masih dilestarikan hingga saat ini.
Undang-Undang Pornografi dan Pornoaksi menjadi bukti bahwa kita telah benar-benar melupakan sejarah dan budaya kita. Kita menganggap budaya asing lebih baik lalu mencoba menerapkannya di bumi pertiwi. Kita juga telah buta dan tuli, memilih pemimpin yang ternyata masih takut berkata tidak pada ketidakbenaran. Semoga Ibu Pertiwi sudi mengampuni kita yang tetap bodoh dan mau dibodohi ini.
06 Desember 2008
Masa Depan
Matematika, Percaya Diri = Sukses! begitu kata sebuah iklan lembaga bimbingan belajar di sebuah perempatan jalan protokol yang kerap saya lewati. Ditulis pada sebuah baliho besar iklan tersebut memang mampu mencuri perhatian, setidaknya bagi pengguna jalan yang kebetulan berhenti ketika lampu lalu lintas menyala merah. Iklan yang cerdas menurut saya. Hanya dengan tiga kata iklan tersebut berusaha memberi opini bahwa sukses tak akan terwujud tanpa bekal percaya diri dan matematika, atau sukses dapat diraih jika kita pandai matematika ditambah rasa percaya diri.
Namun sukses dalam hidup tentu tak terwujud hanya dengan pandai matematika. Banyak ilmu lain yang harus kita kuasai, misalnya akuntansi, komputer, bahasa Inggris dan ilmu terapan lain. Maka itu banyak lembaga bimbingan belajar bermunculan menawarkan metode belajar yang konon mampu membuat anak-anak kita menjadi pandai dan memiliki bekal untuk masa depan mereka.
Sukses memang selalu dikaitkan dengan masa depan. Untuk itu banyak orang tua yang memasukkan anaknya di lembaga bimbingan belajar, ikut les ini-itu agar anak mereka pintar dan nilai-nilai mereka bagus, kalau perlu agar menjadi juara kelas. Semua bermuara pada satu kata: masa depan. Masa depan yang entah kapan datangnya, yang membuat anak-anak kita tak bisa lagi menikmati masa kanak-kanak atau remajanya, sebab waktu mereka dihabiskan untuk belajar dan belajar. Mereka tak sempat lagi bermain atau sekadar bergaul dengan lingkungan.
Karena alasan masa depan para pemuda-pemudi kita ramai-ramai ikut mendaftar sebagai peserta ujian CPNS sebab menurut mereka menjadi pegawai negeri sipil (PNS) kini menjanjikan. Karena alasan masa depan pula mereka yang baru tamat SLTA ramai-ramai melanjutkan studi ke universitas keguruan sebab menjadi guru kini memiliki prospek cerah bagi masa depan. Perkara mereka menyukai pekerjaan sebagai PNS atau guru yang hendaknya memiliki semangat mengabdi dan mendidik itu urusan belakangan.
Saya tidak terlalu percaya kepada sesuatu bernama masa depan. Menurut saya daripada menghabiskan energi memikirkan masa depan lebih baik kita memfokuskan diri pada masa kini. Sebab masa depan adalah apa yang kita lakukan pada masa kini, begitu pula masa kini adalah apa yang kita perbuat di masa lalu. Hiduplah pada masa kini, kata-kata yang sering kita dengar dari para nabi, orang-orang yang melakukan perjalanan ke dalam diri. Mereka telah menyadari kenisbian waktu jauh sebelum Albert Einstein menemukan teori relativitas. Hidup pada masa kini juga berarti kita tak mencemaskan masa depan atau menyesali masa lalu.
Maka masa depan atau masa lalu boleh jadi tak begitu merisaukan kita. Kita hidup di kekinian, mengisi waktu dengan belajar atau bekerja dengan sebaik-baiknya tanpa memikirkan hasilnya nanti. Kita menjadi yakin akan kebijakan semesta, hukum aksi-reaksi, hukum karma. Kita tak takut atau cemas lagi dengan hantu masa depan atau setan masa lalu. Kita menjadi optimis menjalani kehidupan.
28 November 2008
Kritis
Saya tak tahu apakah teman saya memposisikan diri sebagai orang luar atau orang dalam ketika menulis tentang Bali. Teman saya sejak lama bermukim di Jogja, melanjutkan studi di perguruan tinggi, dan kini telah menjadi sarjana. Memang, orang Bali yang tinggal di rantau dinilai lebih terbuka dan objektif dalam menilai Bali. Juga lebih kritis dan berani. Mungkin karena jarak yang jauh dengan tempat kelahiran yang membuat mereka lebih objektif menilai Bali. Mereka mulai mempertanyakan banyak hal yang selama ini tak pernah mereka pertanyakan ketika masih berada di Bali. Pertanyaan-pertanyaan yang melahirkan kegelisahan, mungkin juga kecemasan tentang Bali. Kegelisahan ataupun kecemasan yang kemudian dituangkan dalam tulisan yang kemudian dikumpulkan menjadi sebuah buku.
Ada beberapa buku tentang Bali yang ditulis oleh orang Bali yang bermukim di luar Bali. Di antaranya buku Surat Merah untuk Bali (2007) yang ditulis oleh Putu Fajar Arcana, wartawan yang lama bermukim di Jakarta dan Jogja. Di buku itu, Fajar dengan suntuk dan cermat mengkaji tanah kelahirannya. Ia menyodorkan kegelisahannya terhadap bali dari lubuk hati, menjadi renungan, tidak gugatan. Ada juga Dewa Gde Palguna, hakim Mahkamah Konsitusi 2003-2008 yang menuangkan kegelisahannya dalam sebuah buku Saya Sungguh Mencemaskan Bali (2008). Pada 1986 Putu Setia juga menerbitkan buku Menggugat Bali, yang merupakan cacatan perjalanan tentang perubahan budaya Bali yang ditulis Putu setelah sepuluh tahun meninggalkan Bali.
Namun untuk menjadi kritis tentu tak perlu menjadi orang rantau, tinggal di luar Bali dan melihat Bali dari luar. Tetap tinggal di pulau atau dusun kelahiran juga mampu membuat kita tetap kritis. Keberjarakan dengan tempat asal dan budaya asal tidak mesti diterjemahkan dengan meninggalkan tempat kelahiran, menjadi orang rantau. Ada banyak orang Bali yang tetap tinggal di Bali namun sikap kritis mereka tak berkurang walaupun tetap berada di tanah kelahiran. Jarak adalah sesuatu yang bisa diciptakan. Mungkin itu sebabnya dalam kosakata bahasa Indonesia terdapat istilah “menjaga jarak”. Menjaga jarak itulah yang membuat kita kritis dan objektif melihat sesuatu, melihat tradisi, budaya, adat atau mungkin juga melihat diri kita sendiri. Diatas semua itu, sikap kritis perlu diterjemahkan menjadi sebuah langkah nyata untuk memperbaiki keadaan. Negeri ini membutuhkan orang-orang yang mau bekerja, tidak sekadar bicara saja. Tidak sekadar gelisah atau cemas saja.
22 November 2008
Langit
Untuk membaca sebuah peristiwa lihatlah tanda-tanda di langit, kata almarhum ayah saya beberapa tahun lampau. Dan kini saya melihat langit penuh dengan warna. Warna bendera-bendera partai berbagai ukuran, partai-partai peserta pemilu 2009 yang berjumlah puluhan Kemeriahan menyambut pemilu bolehlah kita sebut sebagai sebuah kemajuan demokrasi, kemajuan sebuah negara dunia ketiga yang sedang belajar berdemokrasi. Dalam sebuah diskusi tentang partai politik di mata para konsituen (masyarakat pemilih) yang diadakan sebuah LSM di Denpasar baru-baru ini terlihat bahwa partai politik di Indonesia kini hanya berpikir soal kekuasaan. Melulu kekuasaan. Partai politik akan peduli kepada rakyat hanya ketika menjelang pemilu atau pemilihan kepala daerah. Setelah pesta demokrasi usai rakyat tak lagi menjadi perhatian mereka. Tentang pendidikan politik yang idealnya diberikan oleh partai politik untuk mencerdaskan masyarakat masih jauh panggang dari api. Bahkan mereka memberi contoh yang buruk kepada masyarakat. Maka tak aneh politik menjadi sesuatu yang berkonotasi buruk, hanya soal uang dan kekuasaan. Padahal politik tak seperti itu. Politik adalah jalan untuk merubah keadaan. Politik tak selalu berkaitan dengan partai, dengan kekuasaan. Sadar akan hak sebagai warga negara juga bagian dari politik. Mengemukakan pendapat di muka umum juga bagian dari politik.
Namun politik terlanjur memiliki arti yang jelek, kotor. Bangsa ini memiliki trauma yang mendalam tentang politik. Tahun 1965 mungkin bisa menjelaskan itu. Jutaan orang yang dituduh berafiliasi dengan sebuah partai komunis dibunuh secara keji. Tanpa pengadilan, tanpa kesempatan untuk membela diri. Tahun 1965 adalah lembaran hitam bangsa Indonesia. Sampai kini belum jelas siapa bertanggung jawab atas pembunuhan massal tersebut. Lalu pemerintahan berganti.Orde baru berkuasa dengan tangan besi-nya. Politik dikebiri. Rakyat tak berani banyak bersuara. Mereka yang berani mengkritik pemerintah langsung ’diamankan’, kata lain dipenjara. Banyak yang tidak menyangka Orde Baru tumbang pada 1998. Bangsa Indonesia kemudian mengalami euforia politik. Partai politik banyak bermunculan, pemilihan kepala daerah dan kepala negara dilakukan secara langsung. Mungkin ini bisa disebut sebagai sebuah kemajuan demokrasi. Kemajuan demokrasi negara Ketiga yang tertatih-tatih bangun dari tidur panjangnya. Maka melihat meriahnya bendera-bendera partai dan foto para calon wakil rakyat yang terpampang di jalan-jalan saya melihatnya sebagai sebuah pembelajaran, kita sedang belajar berdemokrasi, belajar untuk memilih dan dipilih menjadi pemimpin, belajar untuk siap kalah dan siap menang. Lalu ketika terpilih siap untuk melayani, bukan sekadar menjadi penguasa. Bukan sekadar berpikir soal uang yang bisa didapat selama masa jabatan.
Semoga politik kembali ke makna sebenarnya. Politik yang tidak lagi identik dengan darah dan kekerasan. Namun identik dengan kesantunan dan kedewasaan. Politik yang memiliki prinsip, meminjam istilah Mahatma Gandhi.
20 November 2008
Mata Kamera
.jpg)
Foto ini adalah foto ketika demo menolak RUU Pornografi berlangsung di depan kantor gubernur di kawasan niti mandala, renon, pada sabtu (15/11). Perempuan yang sepertinya instruktur senam ini menari seperti hendak menunjukkan bahwa tubuh adalah milik individu dan negara tak usah mengurusnya. Ini tubuhku....
17 November 2008
Wartawan
Kini kau akan sering melihatku di jalan, di seminar-seminar, di acara-acara diskusi, membaca kamera, meliput berita, mewawancarai orang-orang.
Menjadi wartawan adalah babak baru dalam hidupku.
10 November 2008
06 November 2008
Diri Berubah, Dunia Pun Berubah
Penulis : Anand Krishna
Tebal Buku : 102 halaman + xlix
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2008
Perubahan atau change adalah kata yang sering kita dengar belakangan ini. Perubahan yang banyak disebut-sebut dalam berbagai kampanye pemilihan kepala daerah mapun kepala negara. Tak kurang Barack Obama, kandidat presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat menggunakan kata ”change” sebagai fokus kampanyenya. Namun apakah perubahan itu sebenarnya? Siapakah yang harus berubah dan bagaimana memulai perubahan itu? Buku ’Be The Change; Menghidupi Kebijaksanaan Mahatma Gandhi’ ini mungkin bisa menjawabnya. Ditulis dengan bahasa yang mudah dicerna dan begitu mengalir, buku karya Anand Krishna, seorang nasionalis, aktivis spiritual, dan penulis buku-buku laris ini begitu padat dan berisi. Dalam buku ini Anand Krishna mengulas ajaran Mahatma Gandhi yang dikumpulkan oleh blogger Henrik Edberg, seorang penulis berbakat yang mengaku sangat terpengaruh oleh ajaran Mahatma Gandhi. Ajaran yang dirangkum menjadi 10 butir kebijaksanaan Gandhi.
Buku ini sebenarnya merupakan ungkapan keprihatinan Anand Krishna terhadap radikalisme agama yang kian merebak di Indonesia. Peristiwa 1 Juni di Monas, Jakarta membuktikan itu. Sekelompok orang dari pelbagai agama yang sedang memperingati kelahiran Pancasila diserang secara brutal oleh sekelompok orang yang sebagian berjubah putih, yang mengucapkan kata-kata agama dan memukul, menghantam, menendang, menusuk, melukai, dan menghina kelompok yang berkumpul itu. Banyak korban yang terluka, gegar otak, patah tulang, tak terkecuali anak-anak dan perempuan. Sebagian lagi mengalami trauma psikis. Kekerasan atas nama agama telah membuktikan bahwa radikalisme dan fundamentalisme agama memang ada tumbuh subur di Indonesia. Dan yang menjadi ironi negara seperti membiarkan semua itu terjadi bahkan salah satu menteri mengunjungi pelaku kekerasan peristiwa Monas. Bukan mengunjungi korban kekerasan.
Membicarakan kekerasan kita mau tak mau mesti berpaling kepada Gandhi. Itulah yang penulis buku ini ingin sampaikan. Gandhi, yang sepanjang hidupnya melakoni ahimsa, prinsip emoh kekerasan telah membuktikan bahwa kekerasan tak mesti dibalas dengan kekerasan. Mata tak harus dibalas mata. Ahimsa adalah senjata para pemberani, bukan para pengecut. ”Seorang lemah tidak dapat memaafkan. Kemampuan untuk memaafkan hanya ada pada mereka yang kuat. Bila pencungkilan mata dibalas dengan mencungkil mata, seluruh dunia akan menjadi buta”, kata Gandhi suatu ketika. Disinilah ahimsa menunjukkan kekuatannya. Ahimsa tidak sama dengan pesimisme. Ahimsa tidak melukai, tidak menyakiti, tidak membalas pukulan dengan pukulan, namun tetap tidak menerima aksi melukai, menyakiti dan memukuli. Ahimsa tidak menerima kekerasan, dengan dalih apapun, termasuk atas nama agama berdasarkan pemahaman agama yang sempit.
Dan perubahan mesti dimulai dari diri sendiri. Perubahan tak akan terjadi jika kita masih mengharapkan perubahan dari luar. Jika kekerasan telah menjadi kebiasaan di masyarakat maka jadilah penganut ahimsa, hiduplah dengan prinsip tanpa kekerasan. Kekerasan sekecil apapun.
28 Oktober 2008
Ah!
24 Oktober 2008
19 Oktober 2008
Punk Hari Ini
Waktu terus berjalan, tiada yang di sisimu
Ingin keluar tuk dapatkan pemikiran baru
Kukesal hari ini, melihat di sekitar
Semuanya sama dan seragam, korban dari majalah
Dia pikir dia berbeda dan semua band mengkopi Blink
Dimanakah pemberontak, engkau bersembunyi ?
Bukankah ini penting…
Dan perasaanku membunuhku !
Kubenci semua yang tak pasti
Rambut spikey dibilang funky
Mall dipenuhi lambang anarki
Yang akhirnya hilang tak berarti
[Cheerleader ingin jadi punk rock star]
MTV hari ini, Rock'N Roll telah mati
Nyanyikan lagu orang lain dan kau akan terkenal
Coba tuk tak curiga, tak kuasa ku menahan
Penuh tattoo, juga piercing, nyanyikan lagu cengeng
(Sung by Superman Is Dead)
16 Oktober 2008
Rumah
Mereka yang sendiri, akan lama menyendiri,
akan jaga, membaca, menulis surat yang panjang,
dan akan melangkah hilir mudik di jalanan
gelisah, bila dedaunan berterbangan.
Punk adalah sesuatu yang baru di Indonesia. Ia berasal dari Barat, tepatnya
Punk mulai masuk ke Indonesia sekitar 1970-an, dan mengalami kejayaan pada 1990-an. Tak beda dengan di negara lain, di Indonesia punk dianggap sebagai gerombolan remaja pembuat onar, atau sekedar aliran musik keras yang tak jelas. Namun ada yang menarik dari anak-anak Punk. Berbekal semangat DIY (do it yourself) komunitas punk di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Malang mulai merintis usaha rekaman dan distribusi terbatas. Mereka membuat label rekaman sendiri untuk menaungi band-band sealiran sekaligus mendistribusikannya ke pasaran. Kemudian usaha ini berkembang menjadi semacam toko kecil yang lazim disebut distro.
Tidak sekadar kabur dari rumah dan menggelandang di jalanan, memang.
11 Oktober 2008
Radio Merah dari Ibu
Aku gembira dengan mainan baruku. Dari dalam radio aku mendengar nama tuhan, terjang sepatu, rentetan tembakan kematian, sandiwara manusia.
09 Oktober 2008
Requiem

Nobis
Pacem
Kurasakan
dingin dadamu
malam ini
Menanti pagi
bunyi lonceng
usap sengal
perjamuan
Tak kudengar
nyanyian misa
pengakuan dosa
rosario para santo
Orang-orang
melintas cemas
lorong sempit
perjalanan
Tempat
apakah
ini ?
Hujan turun
sepanjang hari
iris tubuhku
jadi potongan
kematian
tanpa peta
reinkarnasi
baju-baju
yang berganti
Aku berjalan
di keramaian
pasar-pasar
kepedihan
hitam mata
serupa paku
sekejap menelikung
ku
Kurasakan
dingin dadamu
malam ini
catatan: dona nobis pacem (latin)=anugerahilah kami damai
05 Oktober 2008
Fundamentalis

Apa sebenarnya penyebab tumbuh suburnya radikalisme agama di
Denpasar, 5 Oktober 2008
03 Oktober 2008
Selebriti

Merekalah para Buddha--yang berarti: Ia yang telah terjaga. Muhammad, Buddha,
Merayakan kehidupan juga berarti berkata ‘ya’ pada kehidupan. Menerima apapun yang datang, apapun yang Kehidupan berikan kepada kita. Menerima kehidupan dengan segala dualitasnya; baik-buruk, gelap-terang, siang-malam, kebahagiaan-kesedihan, kelahiran-kematian. Menerima kehidupan sebagaimana adanya. Penerimaan Total. Karena dengan menerima dualitas kita dapat melampaui dualitas, maka ketika mengalami kesedihan sikap kita sama ketika mengalami kebahagiaan. Kita menjadi seimbang. Hidup menjadi sebuah perayaan, sebuah nyanyian, dan kita tertawa dan bernyanyi bersama kehidupan. Kita pun telah menjadi selebriti. Selebriti Sejati.
Tertarik menjadi Selebriti?
Denpasar, 03 Oktober 2008
02 Oktober 2008
Kematian

Entah mengapa, setiap mendengar berita kematian kini reaksi saya biasa-biasa saja. Mungkin karena saya pernah melihat langsung kematian, ketika ayah tercinta meninggal di bulan ramadhan setahun lalu. Dulu saya menganggap kematian sebuah titik akhir perjalanan, namun setelah banyak membaca buku tentang kematian dan reinkarnasi anggapan saya gugur. Kematian bukanlah sebuah akhir. Kelahiran dan kematian bukanlah sebuah garis lurus. Tak ada yang disebut ‘kematian’ atau ‘kelahiran’ sebenarnya. Sebab roh atau jiwa itu abadi. Hanya badan saja yang mati. Jiwa tak pernah mati. Jiwa adalah energi, dan ilmu fisika mengatakan energi itu kekal. Badan dalam Bhagawad Gita diibaratkan sebagai sebuah pakaian. "Sebagaimana kau melepaskan pakaianmu yang lama dan memakai pakaian baru, begitu pula jiwa ini meninggalkan badannya yang lama dan menghuni badan baru." Metafor yang sangat indah. Lalu mengapa kematian begitu menyedihkan, begitu mengharu-biru? Sebab kita tak tahu apa itu kematian, sebab kematian oleh masyarakat telah dikontruksi sedemikian rupa sehingga kita memperoleh gambaran tentang kematian sebagai sesuatu yang menyeramkan, menakutkan. Kematian adalah akhir segalanya.
Tidak. Kematian bukanlah sesuatu yang luar biasa. Kematian adalah sesuatu yang biasa-biasa saja, sama seperti sebuah Kelahiran, kelahiran seorang anak atau anggota keluarga baru yang kita sambut gembira dengan senyuman dan tawa riang. Alangkah indahnya jika melihat kematian reaksi kita sama ketika melihat kelahiran. Sebab kelahiran bukanlah titik awal dan kematian bukanlah titik akhir kehidupan. Sebab kehidupan tidak berawal dan berakhir. Kehidupan adalah sebuah perjalanan abadi. Saya akhiri tulisan ini dengan sebuah sajak Jalaluddin Rumi:
Aku mati sebagai mineral
dan menjelma sebagai tumbuhan,
aku mati sebagai tumbuhan
dan lahir kembali sebagai binatang
Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
Kenapa aku harus takut?
Maut tidak pernah mengurangi
sesuatu dari diriku.
Sekali lagi,
aku masih harus mati sebagai manusia,
dan lahir di alam para malaikat.
Bahkan setelah menjelma sebagai malaikat,
aku harus mati lagi;
Karena, kecuali Tuhan,
tidak ada sesuatu yang kekal abadi.
Setelah kelahiranku sebagai malaikat,
aku masih harus menjelma lagi
alam bentuk yang tak kupahami.
Ah, biarkan diriku lenyap,
memasuki kekosongan, kasunyataan
Karena hanya dalam kasunyataan itu
terdengar nyanyian mulia;
“Kepada Nya, kita semua akan kembali”
01 Oktober 2008
Sufi
Sufi
Sufi, yang yakin bahwa agama mereka adalah agama Cinta, tentu menjadi penyejuk di tengah radikalisme agama yang menghalalkan kekerasan atas nama agama. Sufi adalah para pejalan di Jalan Cinta. Seperti yang pernah ditulis Ibn Arabi (1165-1240):
“Hatiku telah terbuka sepenuhnya: ini menjadi
30 September 2008
Ke Surga dengan Menari 'Sama'
Tapi kau pergi ke sana dengan menari riang gembira.
Banyak jalan menuju surga, ya Maulana
Tapi ke sana kaupilih berjalan di jalan sama.
Dari Tabriz Shamsuddin datang ke Konya
mengajarimu menari sama, katanya
jangan kau menari sama bila dunia masih mengikatmu
tak bisa kau menari sama bila nafsu masih membelenggumu.
Hanya bila kaujatuh cinta pada-Nya
kau bisa menari sama.
Dengan sama kau menari
Dalam sama kautemukan Dia.
Carilah Dia dengan menari sama dan Dia
akan kautemukan lebih besar daripada yang kau kira.
Allastu bi rabbikkum, bukankah aku adalah Tuhanmu
Bala shahidna, ya kami adalah saksinya.
Tak ada di dunia yang lebih indah dan lebih baik dan daripada
alam alatsu, ketika ciptaan dicipta untuk pertama kalinya
tanpa cacat dan noda sedikit jua.
Kau bilang Maulana, kami semua adalah anak-anak Adam
yang selalu teringat, alam alatsu itu penuh dengan musik
surgawi, kendati kami sudah tertutup debu keraguan
dan ketidaktahuan di dunia ini. Suaranya masih terdengar merdu,
membuat hati tertindih rindu. Di sana semua ciptaan menari-nari,
mengikuti irama musiknya. Tak ada satupun yang mau ketinggalan,
surga di atas dengan bulang bintangnya, sampai bumi di bawah
dengan debu pasirnya, semuanya menari, rindu kembali
ke alam alastu.
Jalan ke surga adalah jalan menari bersama semua yang tercipta
maka bagimu Maulana, sama adalah undangan bagi manusia
untuk menuju ke sana.
Keriat-keriut pintu surga mendengar sama.
Dengarlah, pintu surga menutup karena sama, kata lawanmu.
Tidak, katamu, dengarlah pintu surga sedang membuka mendengar sama.
Siang hari di kota Konya
Salah ad-Din Zarkub sedang menyepuh emasnya.
Wahai, betapa indah embusan sepuhannya
memenuhi pasar dengan irama sama
meniupkan rindu pulang ke alam alatsu.
Maulana dicekam doa, diajaknya Salah ad-Din Zarkub
berputar-putar menarikan sama.
Emas disepuh menjadi tari
Pasar disepuh menjadi sunyi
Kerja disepuh menjadi doa
Maulana menemukan surga
di pasar yang ramai dan sesak oleh dunia.
2006
(Sindhunata, Mengenang Jalaluddin Rumi, Majalah Basis edisi Sufisme, Maret-April 2006)
Singgasana Hati

Maulana, bagimu, hati adalah kebun yang dihujani
tetes-tetes rahmatNya, yang sejuk diembusi
sepoi-sepoi angin rencana-Nya.
Tak pernah hati itu diam, bermalas-malasan
karena hati adalah air yang senantiasa mengalir.
Hati adalah telaga, padanya Sang Pencipta
memantulkan wajah-Nya.
Hati adalah api yang menyalakan Cinta.
"Langit dan bumi tak dapat melingkupi aku,
tapi hati kekasih-Ku melingkupi Aku."
Ya hati adalah singgasana, yang haus mencari,
agar di atasnya bertakhta Allah sendiri.
Mengapa Maulana, kini demi aturan-aturan suci
aku sering dipaksa untuk pergi dari hatiku?
Hingga aku tak disegarkan tetes rahmat-Nya karena aku bukan lagi kebun-Nya.
Hingga aku tak mengalir karena aku bukan lagi air-Nya.
Hingga aku kehilangan wajah-Nya karena aku bukan lagi telaga-Nya.
Hingga padam nyala cintaku karena aku bukan lagi api-Nya
Hingga Dia sendiri pergi karena aku bukan lagi takhta-Nya.
Maulana, aku kehilangan hatiku,
hingga aku tak dapat lagi menjerit kepada-Nya,
Dan ketia Dia bertanya, apakah kamu mencintai Aku,
aku tidak bisa menjawabnya. Karena dalam diriku
tiada lagi air, tiada lagi hujan, tiada lagi angin, tiada lagi api
yang menghidupi aku untuk menjawab cinta-Nya.
2006
(Sindhunata, Mengenang Jalaluddin Rumi, Majalah Basis edisi Sufisme, Maret-April 2006)
Membaca Tanda
Tanda dalam bahasa agama disebut ayat. Membaca tanda berarti membaca ayat-ayat yang bertebaran dimana-mana. Pada berbagai peristiwa, peristiwa sekecil apapun. Ayat-ayat yang tak selalu berupa teks tertulis sebab peristiwa atau fenomen adalah juga sebuah teks yang bisa dibaca dan ditafsirkan. Maka "Bacalah!"
29 September 2008
Egospiritualitas
“Satu-satunya tujuan kita berguru supaya ada yang menegur, menelanjangi dan mengetuk kepala kita, mengingatkan kita bila diam-diam 'egospiritualitas' bertumbuh dan hanya menggantikan ego sebelumnya.” -Anand Krishna
Terimakasih Guruji. Kadang pengetahuan memang memabukkan. Baru sedikit tahu saja sudah merasa lebih dari orang lain. Egospritualitas bertumbuh menggantikan ego sebelumnya, sangat halus, tak terlihat namun sangat berbahaya. Itulah yang banyak menjangkiti para sahabat yang sedang asyik-asyiknya bergelut dengan 'spiritualitas' (mungkin termasuk saya); belajar meditasi, yoga atau bergabung di salah satu organisasi spiritual, atau sedang berguru dengan Si Anu atau Si Fulan. Ego tetaplah Ego. Be aware!
Syukur

Gyan Bhakti,
This is prayer.
This is the beginning of real sannyas.
This is the inner initiation: when you stop thinking and you start thanking.
If you can thank, all becomes possible -- even the impossible becomes possible.
If you can thank, then doors open. They open only for those who live in gratitude.
God gives his keys only to those who are grateful.
God's keys remain unavailable to those who complain.
And all thinking is a kind of complaining.
Thanking is the most beautiful flower that arises into one's soul.
And, Gyan Bhakti, I have been watching you... slowly slowly, the bud is opening.
It is becoming a flower.
Soon you will have wings.
Soon your whole life will become a fragrance.
Soon, not only one flower, but millions will bloom in you.
When one flower has bloomed, know well, the spring has come.
OSHO
The Perfect Master
Vol 2, Ch #8: The Bell Tolls for Thee
am in Buddha Hall
Terimakasih Osho, terimakasih telah mengingatkan saya.
Lebaran

Selamat Merayakan Idul Fitri bagi kawan-kawan muslim.
(keterangan foto: Masjid di Kampung Jawa, Denpasar, diambil sekitar bulan November tahun lalu - Angga)