06 Desember 2008
Masa Depan
Matematika, Percaya Diri = Sukses! begitu kata sebuah iklan lembaga bimbingan belajar di sebuah perempatan jalan protokol yang kerap saya lewati. Ditulis pada sebuah baliho besar iklan tersebut memang mampu mencuri perhatian, setidaknya bagi pengguna jalan yang kebetulan berhenti ketika lampu lalu lintas menyala merah. Iklan yang cerdas menurut saya. Hanya dengan tiga kata iklan tersebut berusaha memberi opini bahwa sukses tak akan terwujud tanpa bekal percaya diri dan matematika, atau sukses dapat diraih jika kita pandai matematika ditambah rasa percaya diri.
Namun sukses dalam hidup tentu tak terwujud hanya dengan pandai matematika. Banyak ilmu lain yang harus kita kuasai, misalnya akuntansi, komputer, bahasa Inggris dan ilmu terapan lain. Maka itu banyak lembaga bimbingan belajar bermunculan menawarkan metode belajar yang konon mampu membuat anak-anak kita menjadi pandai dan memiliki bekal untuk masa depan mereka.
Sukses memang selalu dikaitkan dengan masa depan. Untuk itu banyak orang tua yang memasukkan anaknya di lembaga bimbingan belajar, ikut les ini-itu agar anak mereka pintar dan nilai-nilai mereka bagus, kalau perlu agar menjadi juara kelas. Semua bermuara pada satu kata: masa depan. Masa depan yang entah kapan datangnya, yang membuat anak-anak kita tak bisa lagi menikmati masa kanak-kanak atau remajanya, sebab waktu mereka dihabiskan untuk belajar dan belajar. Mereka tak sempat lagi bermain atau sekadar bergaul dengan lingkungan.
Karena alasan masa depan para pemuda-pemudi kita ramai-ramai ikut mendaftar sebagai peserta ujian CPNS sebab menurut mereka menjadi pegawai negeri sipil (PNS) kini menjanjikan. Karena alasan masa depan pula mereka yang baru tamat SLTA ramai-ramai melanjutkan studi ke universitas keguruan sebab menjadi guru kini memiliki prospek cerah bagi masa depan. Perkara mereka menyukai pekerjaan sebagai PNS atau guru yang hendaknya memiliki semangat mengabdi dan mendidik itu urusan belakangan.
Saya tidak terlalu percaya kepada sesuatu bernama masa depan. Menurut saya daripada menghabiskan energi memikirkan masa depan lebih baik kita memfokuskan diri pada masa kini. Sebab masa depan adalah apa yang kita lakukan pada masa kini, begitu pula masa kini adalah apa yang kita perbuat di masa lalu. Hiduplah pada masa kini, kata-kata yang sering kita dengar dari para nabi, orang-orang yang melakukan perjalanan ke dalam diri. Mereka telah menyadari kenisbian waktu jauh sebelum Albert Einstein menemukan teori relativitas. Hidup pada masa kini juga berarti kita tak mencemaskan masa depan atau menyesali masa lalu.
Maka masa depan atau masa lalu boleh jadi tak begitu merisaukan kita. Kita hidup di kekinian, mengisi waktu dengan belajar atau bekerja dengan sebaik-baiknya tanpa memikirkan hasilnya nanti. Kita menjadi yakin akan kebijakan semesta, hukum aksi-reaksi, hukum karma. Kita tak takut atau cemas lagi dengan hantu masa depan atau setan masa lalu. Kita menjadi optimis menjalani kehidupan.
28 November 2008
Kritis
Seorang teman menerbitkan sebuah buku. Saya menghadiri acara peluncuran bukunya. Buku itu merupakan kumpulan tulisan tentang Bali. Buku yang menarik, mengingat tak banyak buku tentang Bali yang ditulis oleh orang Bali sendiri. Kebanyakan buku tentang Bali ditulis oleh orang asing yang tertarik akan keunikan budaya Bali atau mereka yang menulis karena kepentingan akademis. Mereka yang memposisikan diri sebagai outsider, sebagai orang luar, sebagai seorang pengamat.
Saya tak tahu apakah teman saya memposisikan diri sebagai orang luar atau orang dalam ketika menulis tentang Bali. Teman saya sejak lama bermukim di Jogja, melanjutkan studi di perguruan tinggi, dan kini telah menjadi sarjana. Memang, orang Bali yang tinggal di rantau dinilai lebih terbuka dan objektif dalam menilai Bali. Juga lebih kritis dan berani. Mungkin karena jarak yang jauh dengan tempat kelahiran yang membuat mereka lebih objektif menilai Bali. Mereka mulai mempertanyakan banyak hal yang selama ini tak pernah mereka pertanyakan ketika masih berada di Bali. Pertanyaan-pertanyaan yang melahirkan kegelisahan, mungkin juga kecemasan tentang Bali. Kegelisahan ataupun kecemasan yang kemudian dituangkan dalam tulisan yang kemudian dikumpulkan menjadi sebuah buku.
Ada beberapa buku tentang Bali yang ditulis oleh orang Bali yang bermukim di luar Bali. Di antaranya buku Surat Merah untuk Bali (2007) yang ditulis oleh Putu Fajar Arcana, wartawan yang lama bermukim di Jakarta dan Jogja. Di buku itu, Fajar dengan suntuk dan cermat mengkaji tanah kelahirannya. Ia menyodorkan kegelisahannya terhadap bali dari lubuk hati, menjadi renungan, tidak gugatan. Ada juga Dewa Gde Palguna, hakim Mahkamah Konsitusi 2003-2008 yang menuangkan kegelisahannya dalam sebuah buku Saya Sungguh Mencemaskan Bali (2008). Pada 1986 Putu Setia juga menerbitkan buku Menggugat Bali, yang merupakan cacatan perjalanan tentang perubahan budaya Bali yang ditulis Putu setelah sepuluh tahun meninggalkan Bali.
Namun untuk menjadi kritis tentu tak perlu menjadi orang rantau, tinggal di luar Bali dan melihat Bali dari luar. Tetap tinggal di pulau atau dusun kelahiran juga mampu membuat kita tetap kritis. Keberjarakan dengan tempat asal dan budaya asal tidak mesti diterjemahkan dengan meninggalkan tempat kelahiran, menjadi orang rantau. Ada banyak orang Bali yang tetap tinggal di Bali namun sikap kritis mereka tak berkurang walaupun tetap berada di tanah kelahiran. Jarak adalah sesuatu yang bisa diciptakan. Mungkin itu sebabnya dalam kosakata bahasa Indonesia terdapat istilah “menjaga jarak”. Menjaga jarak itulah yang membuat kita kritis dan objektif melihat sesuatu, melihat tradisi, budaya, adat atau mungkin juga melihat diri kita sendiri. Diatas semua itu, sikap kritis perlu diterjemahkan menjadi sebuah langkah nyata untuk memperbaiki keadaan. Negeri ini membutuhkan orang-orang yang mau bekerja, tidak sekadar bicara saja. Tidak sekadar gelisah atau cemas saja.
Saya tak tahu apakah teman saya memposisikan diri sebagai orang luar atau orang dalam ketika menulis tentang Bali. Teman saya sejak lama bermukim di Jogja, melanjutkan studi di perguruan tinggi, dan kini telah menjadi sarjana. Memang, orang Bali yang tinggal di rantau dinilai lebih terbuka dan objektif dalam menilai Bali. Juga lebih kritis dan berani. Mungkin karena jarak yang jauh dengan tempat kelahiran yang membuat mereka lebih objektif menilai Bali. Mereka mulai mempertanyakan banyak hal yang selama ini tak pernah mereka pertanyakan ketika masih berada di Bali. Pertanyaan-pertanyaan yang melahirkan kegelisahan, mungkin juga kecemasan tentang Bali. Kegelisahan ataupun kecemasan yang kemudian dituangkan dalam tulisan yang kemudian dikumpulkan menjadi sebuah buku.
Ada beberapa buku tentang Bali yang ditulis oleh orang Bali yang bermukim di luar Bali. Di antaranya buku Surat Merah untuk Bali (2007) yang ditulis oleh Putu Fajar Arcana, wartawan yang lama bermukim di Jakarta dan Jogja. Di buku itu, Fajar dengan suntuk dan cermat mengkaji tanah kelahirannya. Ia menyodorkan kegelisahannya terhadap bali dari lubuk hati, menjadi renungan, tidak gugatan. Ada juga Dewa Gde Palguna, hakim Mahkamah Konsitusi 2003-2008 yang menuangkan kegelisahannya dalam sebuah buku Saya Sungguh Mencemaskan Bali (2008). Pada 1986 Putu Setia juga menerbitkan buku Menggugat Bali, yang merupakan cacatan perjalanan tentang perubahan budaya Bali yang ditulis Putu setelah sepuluh tahun meninggalkan Bali.
Namun untuk menjadi kritis tentu tak perlu menjadi orang rantau, tinggal di luar Bali dan melihat Bali dari luar. Tetap tinggal di pulau atau dusun kelahiran juga mampu membuat kita tetap kritis. Keberjarakan dengan tempat asal dan budaya asal tidak mesti diterjemahkan dengan meninggalkan tempat kelahiran, menjadi orang rantau. Ada banyak orang Bali yang tetap tinggal di Bali namun sikap kritis mereka tak berkurang walaupun tetap berada di tanah kelahiran. Jarak adalah sesuatu yang bisa diciptakan. Mungkin itu sebabnya dalam kosakata bahasa Indonesia terdapat istilah “menjaga jarak”. Menjaga jarak itulah yang membuat kita kritis dan objektif melihat sesuatu, melihat tradisi, budaya, adat atau mungkin juga melihat diri kita sendiri. Diatas semua itu, sikap kritis perlu diterjemahkan menjadi sebuah langkah nyata untuk memperbaiki keadaan. Negeri ini membutuhkan orang-orang yang mau bekerja, tidak sekadar bicara saja. Tidak sekadar gelisah atau cemas saja.
22 November 2008
Langit
Untuk membaca sebuah peristiwa lihatlah tanda-tanda di langit, kata almarhum ayah saya beberapa tahun lampau. Dan kini saya melihat langit penuh dengan warna. Warna bendera-bendera partai berbagai ukuran, partai-partai peserta pemilu 2009 yang berjumlah puluhan Kemeriahan menyambut pemilu bolehlah kita sebut sebagai sebuah kemajuan demokrasi, kemajuan sebuah negara dunia ketiga yang sedang belajar berdemokrasi. Dalam sebuah diskusi tentang partai politik di mata para konsituen (masyarakat pemilih) yang diadakan sebuah LSM di Denpasar baru-baru ini terlihat bahwa partai politik di Indonesia kini hanya berpikir soal kekuasaan. Melulu kekuasaan. Partai politik akan peduli kepada rakyat hanya ketika menjelang pemilu atau pemilihan kepala daerah. Setelah pesta demokrasi usai rakyat tak lagi menjadi perhatian mereka. Tentang pendidikan politik yang idealnya diberikan oleh partai politik untuk mencerdaskan masyarakat masih jauh panggang dari api. Bahkan mereka memberi contoh yang buruk kepada masyarakat. Maka tak aneh politik menjadi sesuatu yang berkonotasi buruk, hanya soal uang dan kekuasaan. Padahal politik tak seperti itu. Politik adalah jalan untuk merubah keadaan. Politik tak selalu berkaitan dengan partai, dengan kekuasaan. Sadar akan hak sebagai warga negara juga bagian dari politik. Mengemukakan pendapat di muka umum juga bagian dari politik.
Namun politik terlanjur memiliki arti yang jelek, kotor. Bangsa ini memiliki trauma yang mendalam tentang politik. Tahun 1965 mungkin bisa menjelaskan itu. Jutaan orang yang dituduh berafiliasi dengan sebuah partai komunis dibunuh secara keji. Tanpa pengadilan, tanpa kesempatan untuk membela diri. Tahun 1965 adalah lembaran hitam bangsa Indonesia. Sampai kini belum jelas siapa bertanggung jawab atas pembunuhan massal tersebut. Lalu pemerintahan berganti.Orde baru berkuasa dengan tangan besi-nya. Politik dikebiri. Rakyat tak berani banyak bersuara. Mereka yang berani mengkritik pemerintah langsung ’diamankan’, kata lain dipenjara. Banyak yang tidak menyangka Orde Baru tumbang pada 1998. Bangsa Indonesia kemudian mengalami euforia politik. Partai politik banyak bermunculan, pemilihan kepala daerah dan kepala negara dilakukan secara langsung. Mungkin ini bisa disebut sebagai sebuah kemajuan demokrasi. Kemajuan demokrasi negara Ketiga yang tertatih-tatih bangun dari tidur panjangnya. Maka melihat meriahnya bendera-bendera partai dan foto para calon wakil rakyat yang terpampang di jalan-jalan saya melihatnya sebagai sebuah pembelajaran, kita sedang belajar berdemokrasi, belajar untuk memilih dan dipilih menjadi pemimpin, belajar untuk siap kalah dan siap menang. Lalu ketika terpilih siap untuk melayani, bukan sekadar menjadi penguasa. Bukan sekadar berpikir soal uang yang bisa didapat selama masa jabatan.
Semoga politik kembali ke makna sebenarnya. Politik yang tidak lagi identik dengan darah dan kekerasan. Namun identik dengan kesantunan dan kedewasaan. Politik yang memiliki prinsip, meminjam istilah Mahatma Gandhi.
20 November 2008
Mata Kamera
.jpg)
Foto ini adalah foto ketika demo menolak RUU Pornografi berlangsung di depan kantor gubernur di kawasan niti mandala, renon, pada sabtu (15/11). Perempuan yang sepertinya instruktur senam ini menari seperti hendak menunjukkan bahwa tubuh adalah milik individu dan negara tak usah mengurusnya. Ini tubuhku....
Langganan:
Postingan (Atom)

